Sejarah

  • 17 November 2017

Berdasarkan sejarah daerah ini dinamakan Labuhan Haji, dikarnakan pada era pendudukan Belanda dan Jepang, masyarakat Lombok memanfaatkan pelabuhan ini sebagai tempat awal berangkat menunaikan Ibadah Haji ke Mekkah, Arab Saudi. Pada masa itu, alat transportasi belum secanggih sekarang, dan masih dominan melalui perairan laut menggunakan kapal layar. Untuk sampai di tanah suci, calon-calon haji ini berjuang dilaut dan setidaknya membutuhkan tiga bulan perjalanan dalam sekali kesempatan pergi berhaji.

Disamping penggunaannya sebagai pelabuhan untuk pergi berhaji, tempat ini berfungsi pula sebagai pintu masuk para pedagang keturunan Cina ke wilayah Lombok. Usaha mereka tergolong sukses dan banyak di antara mereka memutuskan untuk menetap. Hal ini bisa dilihat dari sebagian bangunan dan perumahan tua yang ada disekitarnya terlihat memiliki arsitektur khas budaya Cina. Beberapa lokasi kuburan untuk warga keturunan Cina juga dapat ditemukan seperti terlihat pada daerah Penede Gandor, sekira 500 meter dari pelabuhan.

Namun, eksistensi keturunan Cina di Labuhan Haji perlahan menghilang dimulai pada peristiwa Gerakan 30 September / PKI pada tahun 1965. Seperti daerah laennya, waktu itu terjadi pembersihan etnis Cina di daerah ini.

Labuhan Haji terletak pada 08º 40’ LS dan 116º 34’ BT, dengan jarak sekitar 7 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Lombok Timur di Selong. Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

LAPANGAN TERBANG

Rambang adalah yang pertama di Lombok. Letaknya di sebelah selatan Labuhan Haji. Saat ini Rambang masih ada dan dikelola oleh TNI Angkatan Laut. Rambang sempat menjadi lapangan terbang transit Jean Batten, wanita pertama yang terbang solo dari Inggeris ke Australia dalam rangka MacRobertson Air Race tahun 1934.

MEDIA

Satu-satunya media di Labuhan Haji adalah Radio Suara Kancanta atau disingkat RSK FM.

  • 17 November 2017